Selasa, 07 September 2010

~Tuhan dan Agama dalam Dunia Postmodern~


~Tuhan dan Agama dalam Dunia Postmodern~
Oleh: Ronny Tamaela

1.    Pengantar

Dalam buku ini berusaha menjelaskan kecendrungan dalam kegelisahan antara tantangan teologi dalam dunia zaman modern. Agama dan spiritual sulit mendapat tempat dalam dunia modern, yang segala sesuatu diukur pada nilai kebanaran ilmu pengetahuan rasional.

Dualisme dalam pandangan jiwa dan tubuh, spiritual dan matrial digagas dalam pendekatan rasional pada kepercayaan publik modern dan kalaupun ada yang mengandalakan iman itu semata-mata hanya keyakinan privat (individu). Pada akhirnya perkembangan pikiran ini agak susah terjembatani, teologi dalam tantangan kritik agama modern yang tidak mendapat tempat dan pandangan harus dibasmi.

Penting bagi penulis untuk menghadirkan pikiran ini untuk menjembatani teologi dan konteks pemikiran modern dalam pertanggung jawaban agama secara tepat terhadap konteks ini. Maksudnya adalah agama harus dijelaskan bukan saja secara rasional tetapi harus dapat diterima secara spiritual dan iman dalam zaman modern sehingga penting postmodernisme hadir dalam paradigma yang dapat menjembatani keduanya.     

2.   Tuhan dan Agama dalam Dunia Postmodern

      a.      Pendahuluan : Teologi Postmodern


Teologi turun takhta pasca abad pertengahan, memasuki dunia modern seakan-akan teologi menjadi ilmu yang tidak memiliki nilai jual. Perkembangan ilmu dalam wacana ilmu pengetahuan seakan menjadikan teologi seperti kulit dari iman manusia yang tanpa makna.

Teologi dalam perkembangan intelektual membagi diri dalam menjadi dua. Pertama disebut sebagai teologi konserfatif-fundamentalis yang mendasarkan diri pada adanya wahyu supranatural yang secara historis dapat diuji secara ilmu pengetahuan. Jenis kedua adalah teologi liberal modern yang terselubung sekularisme yang kosong. Dari dua jenis teologi ini makan penulis menyimpulkan bahwa teologi bisa diabaikan.

Perlu diketahui bahwa ada beberapa alasan mengapa teologi mengalami nasib di zaman modern. Pertama,  Tuhan, nilai-nilai transenden, jiwa manusia merupakan inti dari visi religius berdasarkan kitab suci yang tidak lagi diizinkan berperan dalam dunia modern. Dalam konteks ini teolog dipaksa untuk memilih untuk melepaskan ilmu pengetahuan atau dipakai ilmu pengetahuan sehingga teologi menjadi tanpa Tuhan. 

Kedua, alasan kenapa teologi menjadi tersisih dalam dunia modern adalah dianggap tidak lagi relevan. Modernitas telah memiliki pengganti, di lain sisi teologi adalah sikap mempertahankan diri orang beriman untuk mencapai keselamatan. Konteks ini sungguh menjadi kontaradiktif dengan masyarakat modern yang sudah menganggap keselamatan dapat dicapai dengan kemajuan meteri yang dikemukan oleh pasar teknologi.

Ilmu-ilmu alam, cabang pokok lain dari pengganti teologi era-modern, memberi kebenaran dasar tentang alam semesta sehingga menggantikan semua teologi terdahulu beserta doktrin-doktrinnya yang dianggap palsu.
Singkatnya bahwa teologi tersisih karena perdaban modern memberi kemajuan pada dampak pemikiran yang tidak memberikan kemungkinan suatu visi teologi sekaligus rasional dan bermakna. Selain itu untuk mencapai keselamat dalam dunia modern telah digantikan dalam ciptaan zaman modern itu.

Dinamika teologi yang tersisih dalam dunia modern memberikan kesempatan untuk kehadiran postmodern. Postmodern muncul dalam dan didukung oleh oleh ilmu-ilmu pengetahuan dan menumbuhkan minat terhadap bentuk-bentuk kemasyarakatan dan kehidupan spiritual modern.

Dalam perubahan konteks ini diharapkan teologi menempati tempat dan hakikat yang boleh dikatakan berubah. Karena ada perubahan minat terhadap spiritual religius sebagai landasan kehidupan individu dan sosial, maka teologi diharapkan bisa menjadi kembali perbincangan masayarakat dalam dunia postmodern. Dengan begitu postmodern yang didukung oleh ilmu pengetahuan memberikan konteks yang dapat menerima teologi postmodern.

Teologi postmodern tidak sama dengan teologi liberal modern, teologi post- modern memungkinkan visi yang benar-benar teologis terhadap dunia, tanpa mengambil sikap konservatif-fundamentalis modern. Teologi postmodern dapat dibangun seperti dengan teologi jenis ketiga yang menantang pandangan dunia modern berdasarkan deskripsi realitas yang lebih rasional dan empirik, dalam kontek ini teologi dapat bergerak lebih berani dan tidak melewati batas.       
Grivin berusaha untuk menujukan ketegangan yang terjadi antara munculnya ilmu pengetahuandan teologi. Ilmu pengetahuan berhail menwarkan keselamatan bagi manusia dengan bentuk materi. bentuk keselamatan manusia dalam modernism adalah keunggulan gagasan yang rasional bagi manusia. Bentuk kemajuan itu ide dapat mengganti  keselamatan yang ditawarkan oleh teologi.

Dalam pandangan itu, Teologipotsmodern muncul sebagi solusi, bentuk pemikiran yang lebih didasarkan pada pengutan ketuhanan itu sendiri tetapi berangkat dari aspek empirik rasional manusia. Sehingga tidak semata-mata rasional manusia mendominanasi.    

b.     Pentingnya Menjadi Manusia: Suatu Visi Postmodern

1)      Orang, Nilai Penting, dan Pandangan Dunia

Menurut Grivin, manusia yang dihasilkan oleh masyarakat adalah manusia yang memiliki arti penting dari masyarakat itu. Rasa penting itu berasal dari kosmik, bila kita merasa ada hal yang penting maka perasaan ini berasa dari intuisi yang berasal dari kosmis. Kisah kosmis ini membentuk latar belakang, suatu pandangan dunia menujuk pada faktor-faktor dari pengalaman kita yang merupakan faktor itu. Pandangan dunia hanya tertuju pada tujuan akhir kehidupan manusia yang paling penting dalam hakikat segala sesuatu.
Ultimate concern ‘tujuan akhir’ adalah istilah Paul Tillich untuk agama dan objek agama. Apa pun tujuan akhir atau hal penting untuk manusia, itulah objek sembahan atau Tuhan kita. Keyakinan, emosi, sikap dan praktek yang diarahkan pada tujuan akhir merupakan kehidupan relijius manusia yang benar.

Masing-masing orientasi religi us ini memiliki visi realitas yang penting. Semua pokok keinginan agar selalu selaras dengan yang paling penting dalam hakikat segala hal itu, yaitu yang kekal dan ‘paling kuat’ dan sering ditafsirkan sebagai “mahakuasa”. Akan tetapi yang paling kuat tidak harus berarti mahakuasa seperti yang ditafsirkan.

Grivin menekankan penting menjadi manusia adalah visi realitas dari postmodern. Manusia hidup dengan nilai, pengalaman menjadi bentuk nyata. Kehidupan manusia menjadi aspek relijius yang paling nyata dari manusia.  
     
2)     Transisi dari Pandangan dunia Abad pertengahan ke Zaman Modern

Ciri pokok tradisi proses transisi pandangan dunia dari abad Pertengahan ke zaman modern tentang arti penting manusia. Dalam abad pertengahan, dunia diciptakan oleh Tuhan yang berpribadi atau personal (kualitas personal), yakni kualitasnya dikandung oleh manusia yang dinggap menjadi dasar. Kualitas ini yang dipandang menjadi dasar dari segala sesuatu. Manusia dianggap menduduki tempat istimewa dalam tatanan semua benda, artinya manusia menampilkan kualitas ciptaan lebih sempurna dari ciptaan lainnya. Kehidupan di bumi bukanlah akhir, melainkan awal eksistensi kita. Bagaimanapun doktrin tentang surga dan neraka, menutut hidup manusia menjadi amat penting.

Dalam pandangan dunia modern ketiga ciri pokok abad pertengahan mengalami penolakan. Dalam pandangan neo-Darwin tentang evolusi dunia terjadi merupakan hasil dari kekuatan alam semseta yang benar-benar impersonal, kekuatan alam semesta yang menjadi utama.  Manusia bukan lagi contoh utama dari kualitas umum alam semesta, kualitas primer adalah yang benar-benar menjadi nyata, berbentuk, ukuran sebagai objek yang kuantitatif. Sedangkan kualitas sekunder adalah kualitas yang inderawi, seperti warna, suara, bauh, rasa panas. Kualitas tersier menyangkut kesadaran pribadi itu, emosi, kebijaksanaan, penilaian tentang yang baik dan yang jahat.

Ketiga penolakan ini membuat manusia masuk dalam zaman modern yang tidak peduli dan jauh dari pada kekosongan yang tak bermakna seperti yang dikatakan oleh Martin Hidegger, manusia adalah mahkluk yang peduli dan terlempar pada dunia yang tidak peduli.

Pada zaman peretengahan ada masuk pada transisi pikiran menyangkut pandangan tentang manusia. Pandangan ini sangat mempengaruhi seseorang denga tujuan akhir manusia seperti yang dibahas di atas. Transisi ini dicirikan dengan bentuk pemikiran yang juga dipengruhi oleh kelompok neo-darwin tentang evolusi.      

3)      Hidup Dengan Pandangan Modern

Alam menjadi sesuatu yang tak bermakna maka munculah suatu aliran filsafat yang biasa dikenal dengan nama Eksistensialisme. Istilah ini biasanya digunakan untuk merujuk pada klaim yang menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi dalam hakikat segala hal. Salah satu pernyataan sangat terkenal dan sangat tepat mengungkapkan posisi eksistensialisme. Menurutnya ketakbermaknaan hidup disebabkan oleh dunia modern.

Moderniseme membuat manusia hilang dari segala makna manusia itu sendiri. Di sini sangat dipengaruhi pemikiran tentang eksistensialisme yang berusaha untuk menempatkan manusia pada hakikat ditenggah-tengga modernism itu sebagai manusia.    

4)       Pandangan Dunia Postmodernisme

Postmodern memiliki klaim kebenaran untuk menopang dirinya bahwa semuanya tidak semata-mata didasarkan pada wahyu yang diyakini begitu saja. Memang tidak salah mendapt gagasan melalui wahyu akan tetapi gagasan harus didasarkan pada konsistensi diri serta kesesuaiannya dengan seluruh realitas yang ada dipengalaman dan kesesuaian ilmu pengetahuan serata dimensi-dimensi moral, estetika dan religius pengalaman manusia.

Aspek penting dari pandangan postmodern dalam hal ini adalah bahwa pengalaman dan kualitas-kualitasnya merupakan hakikat primer, yakni kualitas pengalaman manusia seperti emosi, dianggap sebagai yang primer. Menjadi manusia dianggap sangat penting dalam semesta ini. Jiwa manusia adalah contoh utama suatu realitas yang ada selamanya dan menjadi tempat kedudukan segala kekuatan yang ada di alam semesta. Dengan demikia, mengembangakan kualitas-kualitas jiwa manusia berarti memusatkan dari pada kualitas sesuatu yang paling nyata.

Postmodern melihat ciptaan dari satu mahkluk ilahi yang berpribadi. Tuhan postmodern menciptakan dunia ini tidak dari kehampaan menalinkan dengan memberikan keteraturan terhadap alam. Tuhan tidak menciptakan secara sepihak, melainkan memberi inspirasi kepada para mahkluk menciptakan dirinya sendiri dengan menanamkan perasaan penting yang terus berkembang dalam diri mereka.   

c.      Kreativitas dan Agama Postmodern

1)        Konflik antara Spiritual Kreativitas dan Spiritual Kepatuhan

Seorang besar Renaissans asal italia yaitu Pico Della Mirandola mengatakan hubungan manusia dengan Tuhan, yang berarti harga diri manusia, terletak dalam hubungan kreatif manusia. Pandangan ini menurutnya, manusia merasa berharga dan dan bertindak sebagai tindakan relijius dan bukan sebagai sikap melawan Tuhan.

Dalam pandangan ini aliran Renaissans bersifat panteistik, yang menyamakan ilahi dengan kretivitas di dunia; bahwa Tuhan bisa dibedakan meski saling imanen. Akan tetapi segala sesuatu yang memunculkan kreatif dan kekuatan kreatif datang berakar dan didorong dari ialahi. Menurut pandangan ini Tuhan memiliki semua kreatifitas, sedangkan dunia tidak, Tuhan menjadi pencipta yang mengendalikan manusia.  

Secara sadar berlawanan dengan pandangan tentang hukum alam yang membentuk pandangan manusia modern. Hukum-hukum alam tidak bisa dipandang sebagai hukum deskritif tetapi setara dengan hukum-hukum secara sosilogis, yang menyatakan kebiasaan-kebiasaan berbagai macam mahkluk.  

Pandangan modern pada awalnya bersifat dualistik. Supranatural dualistik ini bisa mendukung dua tipe supranatural manusia. Di satu sisi manusia memiliki keyakinan bahwa bahwa hukum absulut diwahyukan dari Tuhan. Manusia modern berpikiran bahwa sikap hidup mereka seperti ada pada ketentuan hukum alam.  

2)     Masalah-Masalah Dalam Modernitas Awal

Bentuk-bentuk kejahatan teisme merupakan penekanan terhadap kemahakuasaan Tuhan dan kebaikan-Nya yang sempurna. Akan tetapi persoalan yang adalah kekuatan kemahakuasaan semakin ditekan secara tegas tidak ada, apalagi penekanan terjadi dalam kerangka agama yang hanya berdasarkan nalar dan tanpa pewahyuan atau misteri supranatural. Bagaimana manusia bisa melawan kehendak Tuhan.

Injil diyakini sebagai wahyu Tuhan, ternyata merupakan segala kreativitas manusia secara historis itu ditunjukan. Akan tetapi gagasan manusia memiliki kekuatan iniheren untuk menolak kekuatan Tuhan akhirnya manusia berfikir baik yang berdasarkan inspirasi dari Tuhan itu bebas dari kekeliruan dan bias. Akan tetapi injil-injil dalam pengarahnya banyak memiliki kekeliruan dan kontradiksi membuat orang berkesimpulan bahwa kategori inspirasi tidak sama sekali diterapkan.

Ini menandahkan bahwa ada banyak sekali konflik yang muncul antara teori dan fakta yang berbeda, pandangan modern sejak awal juga menghasilkan masalah praktis yang serius antara dukungan terhadap dua spiritual yakni; spiritual kepatuhan tentang kemahakuasaan Tuhan, sedangkan yang satunya isu hukum-hukum alam juga ditafsirkan sebagai energi kreatif manusia.   

3)      Masalah-Masalah dalam modernitas Akhir

Di samping mengalami adanya pertentangan antara teori dan fakta, seperti pada modernitas awal, modernitas akhirnya juga menyiratkan gagasannya mengenai spiritual secara mendua. Dari bentuk ini maka muncul ketegangan antara praktek dalam masayarakat ilmiah dan teori yang diusulkan dengan pandangan dunia yang diterima masyarakat ini menyarankan kreatifitas adalah suatu ilusi. Kehebatan yang timbul akibat dari pemikiran kreatif yang hebat digabungkan dengan disiplin diri yang sangat menonjol sebenarnya dianggap berasal dari sumber yang bersifat determenistik.


4)    Mempertimbangkan kembali Sifat Ilmiah

Dorongan untuk mempertibangkan kembali sifat-sifat alam benda berasal dari bentuk-bentuk keilmuan, khususnya berkat perkembangan yang dipelopori oleh Albert Einsten dan lainya pada masa itu.

Teori atom atau molekul modern memberikan kemungkinan yang bisa dinamakan animisme postmodern. Pada masa ini evolusi keilmuan bergerak cepat dengan evolusi yang dihasilkan, penyamaan Tuhan dengan krearifitas mereka merupakan anggapan bahwa ini merupakan kreatifitas puncak bukan sekedar menyamakan diri dengan Tuhan tetapi merupakan puncak yang dijewantahkan oleh Tuhan.

d.     Tuhan dalam Postmodern

1)  Hilangnya Kepercayaan pada Tuhan Dalam Dunia Modern

Pembahasan eksistensi Tuhan dalam dunia modern membutuhkan defenisi tentang Tuhan dan Modern. Dalam pandangan barat yang dipengaruhi yahudi dan kekristenan tuahan dilihat sebagai sesuatu yang memiliki tujuan, memiliki kebaikan sempurna dan kekuasaan tertinggai. Dunia modern didefenisikan dalam kerangka pandangan dunia modern, yang merupakan pandangan dunia yang muncul dalam abad ke tujuh belas melalui pikiran Gelileo, Descartes, Bacon, Boyle, dan Newton pada zaman pencerahan.

Pemikiran dunia modern bisa mencirikan modernisme yang menonjol. Modernisme memiliki komitmen formal, komitmen ini mengisyaratkan penolakan terhadap keyakinan yang mebatasi kebebasan manusia yang berdasarkan pada otoritas. Selain itu modernisme mencirikan pada diterimanya  suatu pandangan dunia yang berangapan bahwa dasar-dasar alami dipahami secara mekanistik.

Selain pemikiran yang muncul secara ilmiah tetapi juga kejahatan yang terjadi pada kenyataan riil pada konteks itu membuat orang menguji Tuhan yang berdasarkan doktrin adanya bahwa Tuhan maha baik dan mahakuasa. Dengan begitu timbul sikap menolak eksistensi Tuhan dalam dunia modern adalah anggapan bahwa kepercayaan pada Tuhan menghambat dorongan untuk mendapat kebebasan dari segala bentuk penindasan. Alasan ini menghilangkan kepercayaan kepada Tuhan dalam lingkungan intelektual modern adalah secara wajar tidak ada Tempat bagi Tuhan.

2)     Konsukwensi Negatif Akibatnya Hilang Kepercayaan Kepada Tuhan

Kensukuensi pertama adalah Pada abad kedelapan belas sampai sembilan belas, para pemikirnya yang utama menganggap bahwa ateisme adalah hal yang baik, keseluruhan percaya pada Tuhan yang dianggap sudah berakibat buruk. Bagi Nitzche memang benar bahwa dunia telah kehilangan Tuhan dan Tuhan dipandang rendah, tawaran akhir yang dijukan adalah modernisme.

Konsukeuensi kedua adalah nihilisme. Wiliam James menyarankan bahwa untuk sebagian besar orang, nilai pragmatis kepercayaan akan Tuhan adalah percaya akan kekekalan. Menurut pandangan ini, bagaimana kita menjalani hidup termasuk bagaimana memperlakukan orang lain akhirnya tidak penting. Manusia dengan kekuatan ini memiliki kekuatan penghancur di tangannya menghasilkan dunia yang sangat berbahya.

Materialisme adalah konsukuensi ketiga. Manusia tidak berhenti menjadi religius hanya karena beriman kepada suatu objek keyakinan religius tradisional. Dalam matrealisme ini yang dianggap menjadi realitas dasar adalah alam semesta. Yang kita hargai adalah semua pencipta yang ada. Motivasi relijius untuk bisa selaras dengan dengan realitas dasar bisa menjelaskan transisi dari matrealisme teoritis ke matrialisme sebagai cara hidup relijius. Bentuk matrealisme relijius ini adalah nafsu tak terpuaskan untuk menguasai dan memiliki sebagai cara hidup relijius.

3)     Usaha Modernitas untuk Mengakui Kembali Realitas Tuhan

Usaha untuk kembali mengakui Tuhan dengan mendefenisikan ulang, konsep ini berkembang dengan cara menolak gagasan Tuhan yang dijelaskan dalam bab awal. Abad ketujuh belas, Spinoza menjadi orang pertama yang menggunakan cara agar Tuhan bisa cocok dengan pandangan dunia modern dengan memulai mendefenisikan ulang, yaitu dengan menggunakan istilah Tuhan untuk menujuk ke alam semesta secara keseluruhan.

Pandangan panteistik tentang Tuhan ini menghapus kontradiksi akibat masalah kejahatan, karena Tuhan dinyatakan ada di seberang antara kebaikan dan kejahatan. Panteisme adalah doktrin yang dikembangakan oleh Paul Tillich yang mengatakan bahwa “Tuhan” merujuk tidak hanya ke segala sesuatu, melainkan ke hakikat segala sesuatu. Pandangan ini membuat pembahasan cocok dengan pandangan dunia modern dengan digambarkan Tuhan sebagai suatu mahkluk yang berbeda.     

4)     Pandangan Dunia Postmodern dan Kembalinya Kepercayaan

Pandangan dunia postmodern ini sekarang mendaptkan momentum yang memungkinkan timbulnya kepercayaan kembali kepada Tuhan, bahkan hal ini kembali menjadi yang ilmia. Dalam pandangan postmodern ada empat macam kritik yaitu mengunakan argumentasi pragmatis, filosofis, historis dan ilmiah. Empat macam kritik ini menjadi mendia untuk melakukan pencapaian terhadap Tuhan tetapi sebenarnya Tuhan bukan jenis mahkluk yang inderawi sehingga kita dapat melakukan pengamatan realitas ilahi itu. Artinya eksistensi Tuhan tidak dapat dicapai dengan pendekatan yang ditawar untuk pendekatan ini.   

e.      Evolusi dan Teisme Postmodern

1)     Ketidak cocokan Teisme dan Evolusi dalam Pemikiran Modern

Teistik evolusionisme adalah bahwa, dalam rangka bentuknya yang sekarang, pandangan dunia modern tidak cocok dengan teisme dalam bentuk apapun. Bentuk pandangan dunia yang sekarang dominan memiliki kesamaan dengan dualisme supranaturalistik modern. Dalam bentuk kedua pandangan dunia yang modern ini, supranaturalisme jatuh menjadi ateisme dan materialisme.

Hambatan lebih lanjut dalam dalam evolusionisme teistik adalah kenyataan bahwa ide-ide ilmu pengetahuan modern tidak bisa menerima pemahaman tentang adanya pengaruh ilahi pada dunia.

Evolusi teistik bukan saja dikesampingkan oleh oleh ilmu pengetahuan modern secara umum, melainkan dengan lebih pasti Darwinisme secara khusus. Yang menjadi landasan disini adalah bahwa evolusi tidak memiliki arah seleksi alam. Kenyataan bahwa sebagian besar biolog, filsuf, dan bahkan teolog dalam abad ini diajari utnuk menyamakan darwinisme dengan evolusionisme yang menyebabkan pembahasan teistik menjadi sangat sulit untuk mendapat tempat serius.

2)     Kecocokan Tuhan dan Evolusi dalam Pemikiran Postmodern

Prinsip-prinsip proses evolusi yang teratur, pengaruhnya bisa tampak tidak teratur. Tuhan tidak perlu menjadi makhluk yang supernaturalisti; teisme tidak perlu bersifat naturalistik dan bukan merupakan ungkapan yang bertentangan dengan dengan dirinya sendiri.  Karena ungkapan ini bertolak dari anggapan kaum ateis, perlu ditinjau apa yang dimaksud dengan kata Tuhan.

Di dalam bab sebelumnya, kultur kita memiliki suatu gagasan generik tentang Tuhan. Gagasan generik ini terkandung paling tidak tujuh sikap pokok. Tuhan adalah (1) suatu kekuatan mahatinggi, (2) pribadi pencipta dunia ketiga yang bertujuan, (3) mahasempurna, (4) sumber norma-norma, (5) jaminan dasar makna kehidupan manusia (6) landasan yang bisa diandalkan demi kemenangan, (7) yang patut disembah. Sebagian besar manusia setujuh dengan sebutan ini Tuhan, cocok diterapkan pada realitas yang memiliki sifat-sifat ini. Baik teisme naturalistik maupun teisme supernaturalistik berpendapat bahwa Tuhan ketuju sifat di atas.

f.        Animisme Postmodern dan Hidup Sesudah Mati

Animisme baru ini muncul dalam banyak alasan. Animism postmodern dalam pandangan Alfred North Wtitehead dan Carles paling koheren. Pandangan mereka berbeda dengan animisme pramodern, pertama; kekuatan persepsi dan pergerakan diri bukan milik benda-benda seperti batuan, danau, atau matahari. Di sini individu asli saja yang bisa mennyerap dan memiliki pergerakan diri. Oleh sebab itu, sebagian besar individu yang kita lihat bukanlah individu yang hidup. Satu-satunya jenis yang hidup adalah hewan yang ditunjukan oleh namanya, memiliki anima yang membuat organisme ini memiliki presepsi dan gerak diri.

Kedua, animisme postmodern dengan sebagian jenis pramodern adalah adanya anggapan tentang banyaknya tingkatan anima yang berbeda secara radikal. Memiliki pengalaman tidak harus memiliki pengalaman kesadaran apalagi kesadaran diri. Sebagian besar pengalaman yang ada di dunia bersifat sadar.

Ketiga, bila sebagian besar animisme pramodern menganggap satuan-satuan dasar alami adalah jiwa yang terus-menrus ada, maka animisme postmodern menganggap satuan-satuan dasar alami adalah pengalaman sesaat.

Setelah membuat perbedaan animisme postmodern terhadapa animisme pramodern, sifat penting animisme postmodern adalah pandangannya yang menyatakan bahwa presepsi indrawi bukanlah bentuk dasar presepsi. Setiap individu, baik yang memiliki organ maupun tidak, menyerap lingkungannya dalam artian menerima pengaruh dari luar untuk dibawah ke dalam dirinya.

Animisme postmodern mengubah segalanya. Kehiduapn sesudah mati dipikirkan sebagai hal yang terpisah dari supernaturalisme. Presepsi noninderawi dan bentuk-bentuk pengaruh dari jauh lain, yang bisa memberikan bukti adanya kemungkinan dan realitas adanya kehidupan sesudah mati tidak dikesampingkan. Pikiran atau jiwa dianggap berbeda dari otak, tetapi hal ini tidak memerlukan adanya dualisme ontologis yang memerlukan suatu tuhan supranatural  yang memungkinkan otak dan jiwa menjadi masuk akal.

g.      Disiplin Spiritual dalam Dunia Pertengahan, Modern dan Postmodern

1)     Teologi Agustinian dan Disiplin Spiritual

Keinginan unutk mendukug suatu spiritual berada di inti teologi Kristen dari Agustinus. Salah satu pokok perhatiannya dalam kehidupan dan teologinya adalah penolakan terhadap dualisme Manichean. Doktrin ini menyarankan bahwa jiwa berad dalam posisi defensif yang hanya mencoba menyingkirkan pengaruh badan dan dunia material yang di sekelilingnya jahat.   

Dalam masa agaustinus banyak keprihatinan muncul yang mengatakan bahwa doktrin tentang predestinasti mutlak dan rahmat yang tidak dapat ditolak akan menghambat perkembangan disiplin spiritual dan akan mendukung kemalasan. Keprihatianan ini bersama-sama dengan usaha untuk melindungi keadilan Tuhan menjadi pusat pemikiran kaum Pelagian.

Setelah itu banyak perdebatan, melalui Yohsnes Cassianus yang beraliran Irenis yang membahas pendirian para rabib. Kesimpulan-kesimpulan mengerikan pada pandangan agustinus seperti dipredestinasikan kaum yang tak terpilih ke neraka ditolak.

2)     Modernitas yang bersifat Antispiritual

Pandangan dunia modern makin mengecilakan pentingnya dan kemungkinan dilakukannya suatu disiplin spiritual. Pandangan dunia modern adalah suatu konteks yang secara menyeluruh mengecilkan disiplin spiritual. Yang dimaksudkan disini adalah modernitas yang bersifat ateistik dan matrealistik. Semua kenyataan dasar dalam pandangan Agustinus tentang Tuhan, jiwa dan dan nilai spiritual dianggap tidak nyata, karena hanyalah materi yang bergerak. Oleh sebab itu, dorongan spiritual kita membawa kita pada spiritual matrealisme yaitu spiritual yang anti spiritual. 

3)     Spiritual Postmodern Whitehadian

Dalam beberapa hal Whitehead sependapat dengan Agustinus. Jiwa manusia yang tidak berdaya dan pasif, terkurung dan berada dalam wilayah defensif terhadpa dunia material, tetapi sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan yang membentuk diri dan lingkungan.

Whitehead memberikan landasan baru dalam keprihatinan agustinus. Teologi postmodern menerima pengaruh Tuhan yang penuh rahmat ilahi ada dan bersifat efektif setiap saat. Teologi whitehead memberikan pemahaman hubungan sang ilahi dengan manusia yang bersifat nonkompetitif dan tidak mengikari kepribadian yang berarti adanya pengaruh realitas ilahi. Demikian bahwa pengaruh ilahi berkarya sedemikian rupa sehingga kita juga memiliki kebebasab teologis -kebebsan manusia dengan Tuhan.

h.     Imprealisme, Nuklirisme, dan Teisme Postmodern

         Gagasan tentang Tuhan yang bersifat supernatulaistik cukup memberikan sumbangan pada imprialisme modern pada umumnya, dan nuklirisme. Karena motivasi manusia cukup rumit, termasuk dimensi-dimensi tak sadar. Gagasan Tuhan tentang yang supernaturalistik ini secara langsung maupun tidak langsung memberikan sumbangan pada masalah-masalah ini. Doktrin kemahakuasaan ilahi bisa membantu memberikan rasionalisasi diizinkan adanya penumpukan senjata nuklir, meskipun senjata ini memiliki potensi menghancurkan sesuatu yang harus dilindungi.

Banyak kaum teis percaya begitu saja bahwa Tuhan tidak mungkin membeiarkan bahwa kehidupan manusia dihancurkan.Banyak pemikiran yang ateisme yang berkembang dalam pemikiran modern yang melihat bahwa gagasan dominan Tuhan tidak masuk akal. Teisme diguncang masalah kejahatan, telaah injil secara historis-kritis, dan bukti-bukti adanya evolusi membuat gagasan tentang kemahakuasaan ilahi menghasilkan harapan-harapan yang tidak realistik. Tegasnya, bila gagasan supernaturalistik tentang Tuhan secara langsung mendukung imprealisme, militerisme, dan nuklrisme dengan menggambarkan bahwa alam dikuasai oleh kekuasaan yang memaksa, kemustahilan dan sifat ini menghasilkan versi ateistik keyakinan itu juga. Namun dunia modern didorong oleh dinamika imitatio dei agar bisa menguasai dunia dengan menggunakan kekuatan memaksa.
Teologi postmodern menolak voluntarisme teisme supranaturalistik dan nuturalistik ateistik modernisme, dan menggantikan dengan bentuk teisme supernaturalistik.

Penolakan volunterisme bukan berarti tujuan dan kebebasan tidak bisa diterpkan kepada Tuhan, yang ditolak adalah pengertian dari bentuk dasar hubungan Tuhan dengan dunia yang merupakan gambaran subjektif realitas yang ditentukan oleh ralitas ilahi. Teologi postmodern menolak gagasan yang mengatakan bahwa Tuhan berkarya di tenggah dunia.

3.  Penutup
Gambaran isi buku ini mau mengilas tentang gagasan teologi postmodernisme yang berdasarkan perkembangan pemikiran. Tantangan teologi dalam dunia modern dengan melihat pada pandangan perkembangan ilmu dan gagasan teologis yang terhdap manusia dan Tuhan. Buku ini lebih memperlihatkan prisip universalime sebagai sebuah emansipasi pemikiran terhadap kehidupan manusia dan hubungan dengan realitas Tuhan. Penawaran-penawaran gagarsan rasional ilmu pengetahuan merupakan bentuk dari gagasan yang totaliter terhadap manusia di dunia.  


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar